Tampilkan postingan dengan label In Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label In Love. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Januari 2010

Menunggu di Sini




Setengah satu lewat. Saat tanganmu menggeliat, menggapai dunia mimpi hitam putih. Ataukah berwarna ? Ingat, waktu itu kita pernah berdebat mengenai ini di bawah sonokeling kampus. Mimpi itu hitam putih, katamu. Tidak, mimpi itu berwarna, bantahku. Nyatanya saat bermimpi kita lupa untuk memastikan itu.
Kini aku di sini, berdiri di tepi mimpimu. Pepohonan berbatang hitam, dedaunan menguning, langit sewarna timah, tanah tertutup rumput basah dan kau berdiri menghadap barat. Matahari gelisah membujuk senja supaya lekas tiba. Burung-burung terbang rendah berkicau meriah. Kau diam kebingungan, mengenali lingkungan yang asing ini. Taukah kau, aku sering menantimu di sini. Sendiri. Berkali-kali.
Matamu belum menemukan sosokku. Perlahan kuberjalan menujumu dari arah belakang punggungmu. Mungkin kau akan terkejut melihatku, mungkin juga biasa saja. Siapa yang benar-benar tahu isi hatimu. Siapa yang benar-benar bisa menduga yang sesungguhnya. Selamanya kau selalu menjadi teka-teki yang enggan kuselesaikan. Segalanya kadang indah saat menjadi misteri. Dengan begitu aku puas merasai sensasi setiap kali bertanya-tanya tentangmu.
“Dini…”
Kau menyebut namaku selembut desau angin. Matamu membelalak saat menyadari keberadaanku. Aku tersenyum sambil mengangguk.
“Kau…, Mengapa ada di sini ?”
“Aku menunggumu. Lama. Sekarang kau baru datang ?”
Kamu memalingkan pandangan pada matahari yang berhasil membujuk senja. Langit barat jadi jingga. Bulan hampir muncul di langit timur. Bayang-bayangmu menjadi pendek di tanah berserasah. Kini kau tahu, mimpi itu berwarna kan.
“Aku tak tahu kau menunggu.” Bisikmu pada udara yang dingin. Tentu saja kau tak pernah tahu. Aku tak mengatakannya sementara kau tak pernah membahasnya. Untuk apa kau tahu. Meski aku teramat ingin memberitahumu. Dahulu. Namun sekarang semua jadi percuma.
“Mengapa kau menungguku ?” Tanyamu yang membuatku tersenyum. Aku bahkan tak tahu mengapa aku melakukan hal sebodoh itu. Menunggu. Sementara kau tak pernah tahu aku menunggu. Hidupmu terlalu sempurna untuk kukacaukan dengan sebuah pengumuman tak penting bahwa aku menunggumu di sini. Aku tak ingin merusak kariermu yang mulai menanjak itu. Membuatmu berpaling dari segala kenikmatan hidup.
“Jika aku tahu, maka aku akan segera ke sini. Tak ingin membuatmu lama menunggu.” Kamu mulai bergerak mendekat. Perasaan yang dulu pernah ada terasa terulang kembali. Ingatkah kau, ketika kita mulai bertatapan di bawah sonokeling itu ? Lalu bibirmu tersenyum rikuh sementara buru-buru kubuang pandangan ke arah bangunan tua kampus kita. Kau tak pernah memberitahuku sesuatu, aku tak pernah bertanya. Segala ketidakpastian itu sungguh kunikmati. Namun kini aku ingin sebuah jawaban.
“Maksudmu ? Kau rela meninggalkan kariermu demi aku ?” Ragu-ragu kutanyakan itu. Tak berharap lebih mendapat jawaban yang memuaskan. Ketidakpastian ini bisa berakhir dengan sebuah kata ya atau tidak. Keduanya memang berbeda, tapi keduanya toh menjadi sesuatu yang pasti. Lantas aku akan berhenti bertanya-tanya.
“Iya.” Jawabmu tegas. Senyuman terlukis indah di wajahmu. Tanganmu meraih jemariku, dalam beberapa menit kita kehilangan kemampuan berbicara. Hanya mata yang saling menyatakan.
Lalu segala keindahan berubah tragedi. Langit mendadak bergemuruh, kilat datang menyambar. Tautan tangan kita terlepas. Di dalam kepanikan kudengar kau meneriakkan namaku. Mataku lamur. Hujan datang tiba-tiba dan menghebat. Lamat-lamat kulihat sosokmu telah terenggut dari hadapanku, meronta diculik langit. Lalu aku terpental dari dunia ini. Dunia mimpi berwarnamu.
******************************

Dokter berusaha sekuat tenaga menyelamatkanmu. Mesin pendeteksi detak jatung melagukan irama monoton yang lambat. Lalu berhenti di sebuah nada. Dokter dan perawat saling berpandangan lunglai merasakan kekecewaan yang berujung kesedihan. Aku yang berdiri di tepi ranjangmu mengusap titik air di ujung mataku. Mengapa harus berakhir di sini ? Sosokmu yang tak lagi utuh terbujur kaku dan mulai memucat.
Tiba-tiba kurasakan sebuah sentuhan. Lembut dan menenangkan. Kamu sudah berdiri di sampingku, tersenyum penuh kelegaan. Ekspresi kesakitan itu tak membekas di wajahmu yang bersih tanpa darah. Ragu-ragu aku membalas senyummu. Masih bingung menentukan sebuah rasa. Bahagia atau sedih.
“Kau sudah lama menunggu kan ? Ayo kita pergi membangun rumah idaman.”



Kamis, 14 Januari 2010

Tiga Tahun




Kopi dan Michael Buble. Dua hal itu sudah membuat hidupku indah hari ini. Meski pekerjaan datang bertubi-tubi seperti banjir di bulan Januari. Caffeine keep me alive. He, salah !! Hanya Allah yang bisa membuatku tetap bertahan hidup.
Seluruh ragaku masih terfokus pada layar komputer di meja kerja saat handphoneku bergetar di balik saku blazer. Sederet nomor yang tak kukenal. Ragu-ragu aku memencet tombol answer. Suara yang pernah sangat familiar terdengar. Sebentar, aku masih mengingat-ingat. Ah ya !
“Hai, hem….sibuk sih. Tapi masih sempatlah jawab telepon.” Jawabku setelah dia mengucap salam dan bertanya tentang kesibukan hari ini. Dia masih seseorang yang sama, yang dulu memanggilku dengan ‘Lizz’ disertai penekan z di belakangnya. Kupikir Jepang akan membuat lidahnya menjadi susah mengatakan itu.
Pertemuan pertama kami terjadi  tahun yang lalu, tepatnya ketika aku masih semester lima di bangku kuliah. Aku dan dia tergabung dalam satu organisasi kampus yang sama. Sering terlibat dalam kepanitiaan yang sama, menjadikan kami dekat satu sama lain. Meskipun aku dan dia beda fakultas. Pernah suatu malam kami terjebak di sekret, ketika sedang mempersiapkan event besar untuk besok paginya. Sambil menyelesaikan tanggung jawab kami masing-masing, tanpa sengaja dia bercerita banyak hal. Itulah awal kedekatan kami.
“Jadi sudah selesai S2 nya ? Selamat ya Pak. Welcome to the jungle….” Kataku kemudian. Dia tertawa di sana, lalu mengucapkan terima kasih. Diam sejenak, sebelum akhirnya dia bersuara lagi. Aku sempat menimbang-nimbang, saat dia mengajak bertemu besok malam.
“Oke. Besok jam 8 ya.” Akupun menyepakati sebelum akhirnya handphone kuletakkan di tempatnya semula. Lost milik Michael Buble menyertai kebengonganku yang tiba-tiba muncul setelahnya.Kuhirup dalam-dalam aroma kopi yang tinggal setengah cangkir.

_________________________________________________________________________

Jumat, 08 Januari 2010

Runaway



Bisakah mereka mengatakan bilangan rindu yang kupunya ? Bisakah kau percaya pada apa yang mereka katakan itu ? Rindu seakan menempatkan manusia di sebuah perahu layar yang terombang-ambing hebat saat badai laut mendadak datang. Rasanya mual, juga takut. Ketakutan tak lagi bisa menjumpai daratan tempat berangkat dahulu. Lalu apakah aku bisa kembali ke daratan itu ? Dimana aku berangkat pergi dan kau berdiri memandangi punggungku.

Hidup kadang tak seperti yang ada di buku rancangan kita. Iya, aku tahu. Hidup memang sesuai dengan buku rancangan milik Tuhan. Oh, andai saja Tuhan bersedia membocorkan isi buku itu padaku, mungkin aku bisa mengantisipasi berbagai hal yang mungkin terjadi. Sayangnya jin selalu gagal mengintip buku itu, lalu dia kembali ke bumi dan mengabarkan berita-berita yang tak sepenuhnya benar. Sebab itu aku tak percaya ramalan. Itu hanya bualan jin yang gagal menembus penjagaan ketat malaikat.

Aku tak ingin pergi. Kau tak ingin aku pergi. Kita tak ingin berpisah. Tapi siapa yang tahu Tuhan telah merancang perpisahan ini untuk kita. Aku tak bisa bilang tidak, sebab aku tak ingin disebut makhluk durhaka. Kau tak bisa memaksaku bilang tidak, sebab kau terlalu mencintaiku. Meski cinta kita membutuhkan pengorbanan yang tak mudah.

Sebut saja aku plin plan, sebab aku memang selalu begitu. Aku tak ingin pergi. Sungguh tak ingin. Tapi aku pergi juga. Aku tahu mataku berlebihan menumpahkan air mata. Aku tahu kau terlalu berlebihan untuk menahan supaya air matamu tak jatuh berderai. Kau selalu ingin terlihat kuat bukan ? Tidak, kau memang kuat. Seperti seharusnya. Seperti yang selalu kuharap. Kekuatan hatimu itulah salah satu yang kucinta.
Ini entah hari keberapa, aku lelah menghitung. Ratusan jumlahnya, dan kita belum juga berjumpa. Bisakah cinta bertahan di tempatnya semula, sementara kau semakin menjelma bayang-bayang. Mana bisa aku memelukmu, lalu bersandar di dadamu seperti sebelumnya. Saat hatiku resah entah karena apa, dan dadamu memberiku kenyamanan serupa secangkir coklat panas. Kini hatiku resah melebihi yang dulu pernah kurasa. Badai datang mendadak. Porak segala tatanan di dalamnya. Termasuk kata-kata penghiburan yang sering kau bisikkan dari jauh itu. Aku tak lagi bisa menunggu. Aku harus berbuat sesuatu untuk menjadikanmu nyata kembali.

Nanti malam aku akan melaksanakan rencana itu, mungkin bersama Ratih dan Irna. Kemarin kami sudah menyepakati strategi itu. Lalu segalanya akan berjalan lancar. Mereka tak akan sadar sampai kemudian fajar mengusir gelap, lalu seorang sipir wanita akan berteriak menggemparkan seluruh lorong bahwa tiga narapidananya kabur. Demi Tuhan, kami tak akan kabur selamanya. Hanya sebentar. Aku hanya ingin melihatmu menjadi sosok yang nyata, bukan sekedar bayang-bayang semata. Sekedar memastikan bahwa cinta masih ada di tempatnya, belum bergeser seinci pun. Lalu aku akan tenang. Berjalan kembali ke penjara dengan riang, seperti seorang anak yang pulang ke rumah setelah lelah bertamasya.

Senin, 23 November 2009

Soulmate (Sekuel Seperti Venus)

Di kejauhan sana, titik-titik kuning menyala bergerombol di hamparan kegelapan. Kegelapan yang mengaburkan garis pemisah antara pantai dan langit. Titik-titik itu membentuk siluet perahu nelayan yang mungkin baru saja berangkat berburu ikan. Sungguh indah bagiku. Dua warna saling kontras, seperti lukisan dalam kanvas berlatar hitam pekat.
Bis masih melaju menyusur pantai utara yang meramai saat malam. Kaca jendela memburam terkena titik hujan yang baru saja reda. Kapal itu semakin tergeser, dari kanan menuju kiriku, dan akhirnya menjadi sesuatu yang tak terlihat olehku. Begitulah waktu melenyapkan kamu. Kamu tentu masih ada, tetapi tak lagi bersisian denganku. Tak lagi dapat kulihat setiap saat. Namun masih terus kukenang.

Tujuh tahun yang lalu....

"Malam di pelosok ternyata lebih indah ya" Katamu, dulu, sewaktu kita masih teramat muda dan senang berkelana.

"Apa bedanya ?" Tanyaku. Lalu mulai mencari bagian mana yang indah di malam ini. Selain adamu yang begitu jujur berbagi cerita apa saja denganku. Membuat malam yang sunyi menjadi riuh oleh obrolan kita yang sering berubah topik.

"Lihat saja itu." Kau mendongak, menghayati betul saat menatap titik-titik terang di hamparan langit maha luas. Aku mengiyakan dalam diam. Bintang di sini memang terlihat lebih terang. Tidak perlu berusaha keras bersaing dengan lampu-lampu jalan serta cahaya-cahaya dari gedung bertingkat seperti di kota besar.

"Di sini bintang terlihat lebih mentereng kan, dibanding lampu gedung-gedung tinggi di kota." Ternyata pikiranmu sejalan denganku. Ini bukan saat yang langka, saat kita memiliki pemikiran yang sejalan. Bahkan kadang telepati bukan sesuatu yang mustahil bagi kita. Seperti yang terjadi dua bulan yang lalu, saat dadaku tiba-tiba sesak. Ternyata kamulah penyebabnya, saat itu asmamu kambuh sehingga menyebabkan sesak di dadaku. Aneh ? Entah.

"Kau tahu ? Aku menikmati saat-saat berada di pedalaman ini. Meski tak ada sinyal dan listrik hanya nyala selama 12 jam setiap harinya." Kini tatapanmu beralih. Kali ini memandang sisi kanan wajahku.

"Di sini memang lebih damai. Lagipula di sini kita bisa melihat banyak hal yang indah dan langka. Elang terbang rendah misalnya. Oya, dan bintang itu." Kataku.
"Dan kamu." Kau nyaris berbisik. Aku mendengarnya, lalu menoleh melihat wajahmu yang berubah ekspresi mendadak. Aku, sebenarnya ingin memperpanjang topik satu itu. Tapi sesuatu seperti melarangku tiba-tiba. Tak usah saja.

"Hem, tapi...kalau disuruh tinggal di sini, aku akan berpikir ribuan kali dulu. Okelah aku suka di sini, tapi hanya beberapa bulan saja." Aku membuka ruang diskusi selepas jeda beberapa saat.

Kau diam lagi. Aku tahu apa yang di benakmu. Tetapi aku memilih pura-pura tak tahu.
"Penelitian kita akan berakhir minggu depan kan ya. Kita adain perpisahan yuk." Aku mencari topik lain. Tidak ada respon menyenangkan darimu. Kau hanya mengangguk saja. Tak ada diskusi panjang lagi.

Sementara bulan sudah naik ke atas. Malam makin tua. Pagi di ujung sana.
"Sudah larut. Aku mau tidur saja." Kataku sambil beranjak dari teras rumah panggung itu. Tempat aku dan dua orang teman perempuanku menginap. Sementara kamu dan empat teman laki-laki yang lain menginap di rumah panggung sebelah.

Kau juga berdiri. Menahanku sejenak dengan badanmu yang menjulang itu. Menghalangiku yang akan melangkah ke dalam.

"Kau tahu, sekarang aku sedang ketakutan ?" Tanyamu. Aku tak mengerti. Kau bukan tipe penakut pada apapun. Termasuk pada maut sekalipun. Dan pertanyaanmu itu membuatku tersenyum saat itu. Akhirnya kau merasa takut juga.

"Takut pada apa ?" Tanyaku sekilas, sambil menguap.

"Takut jatuh cinta padamu." Katamu.

Mataku yang tadi sempat meredup, kini membelalak. Aku ternganga. Lalu memandangimu, mencari keseriusan di sana.

"Jangan...." Kataku.

"Jangan sampai." Lanjutku. Lalu aku membuka handle pintu dan masuk ke dalam dengan pertanyaan-pertanyaan nyinyir di kepalaku yang enggan kujawab saat itu.

________________________________________

Ingatanku kembali ke tempatnya. Bus masih melaju menembus gelap. Bintang di luar tak tampak. Kamu di ingatanku sekarang.
Aku tak tahu, mengapa dulu aku mencegahmu untuk jatuh cinta padaku. Mungkin karena ketakutanku semata. Karena aku takut merusak perasaan paling murni yang kumiliki, kasih sayang tanpa tendensi yang telah tumbuh sejak pertama aku mengenalmu. Saat ospek di kampus kita. Sejak awal, aku tahu tak akan sanggup mencintaimu, sebab yang kumiliki lebih dari cinta.
Lagipula kita terlalu sama dalam banyak hal. Aku butuh seseorang yang berbeda, yang menggenapiku. Bukannya sama persis denganku. Dan itu bukan kamu.

Rabu, 11 November 2009

Seperti Venus (1)

Fiksi (1)

Dia seperti Venus. Venus yang kadang terlihat jelas di langit timur kala subuh. Kadang seolah tak tampak meski dia tak pernah menghilang. Di lain waktu, dia akan terlihat kala senja di langit barat. Mengintip di sebalik matahari yang meredup. Dia begitu indah meski jauh. Mungkin justru begitulah caranya menjadi indah, dengan membentangkan jarak ribuan mil yang mustahil dapat kutempuh. Begitu pula perempuan itu, yang sebenarnya selalu ada di sekitarku namun tak pernah benar-benar dekat. Aku tak pernah tahu, alasan apa yang mendasarinya hingga dia sedemikian kukuh mempertahankan jarak denganku. Padahal kami selalu terlibat dalam proyek yang sama. Selama ini hubungan kami memang baik. Namun aku merasa sama sekali tak pernah benar-benar mengenalnya.

“Kadang aku ingin memanggilmu Venus saja.“

Kataku suatu sore. Saat itu kami sedang membereskan laporan perjalanan di gazebo depan kolam renang. Dia hanya melihatku sekilas, lalu kembali sibuk menggerakkan jarinya di keyboard.

“Kau indah saat jauh.”

Aku melanjutkan kata-kataku. Tak peduli dengan tanggapannya yang sok dingin itu. Sore ini terlalu sepi jika dilalui hanya dengan melihatnya mengerjakan laporan. Aku lebih memilih menyelesaikan laporan itu besok saja, di rumah. Besok masih hari Minggu. Sore ini, aku ingin merayakan kegembiraanku karena berhasil satu tim dengannya. Artinya, aku akan sering berada di dekatnya.

Awalnya aku berniat mengajak dia bersantai sambil menikmati secangkir kopi. Namun ternyata keahlianku merayu tak berlaku baginya. Lihat saja, sekarang dia sedang asyik sendiri dan mengabaikanku. Jadi, aku pun akan terus membuatnya terusik sampai dia menutup notebooknya itu lalu menyimakku penuh perhatian sambil berkata,lanjutkan sayang. Sebutlah aku tukang khayal, toh memang hal itu mustahil terjadi.

“Venus juga begitu bukan. Begitu indah saat kau mengamati dari kejauhan. Namun ketika astronot mendekatinya, yang terlihat hanya kawah-kawah dan permukaan yang kering dan sangat panas. “

Aku berkeras melanjutkan lagi kata-kataku tadi. Siapa tahu kali ini berhasil mengusiknya. Nyatanya di hanya melirikku sekilas tanpa menghentikan gerakan jarinya.

“Kau mengerikan jika sudah dekat begini. Apatis, dingin dan sungguh angkuh. Terbuat dari apa sebenarnya hatimu ? Tidak adakah sedikit saja hormon estrogen di tubuhmu ? Kau tampak militan dalam balutan blazer hitam kakumu yang biasa kau pakai, sangat menunjang kemaskulianmu itu. Mengapa tak sesekali kau ganti kostum itu dengan sesuatu yang cerah. Oranye misalnya. Oho, kau mungkin akan terlihat seperti….well, tulip mungkin.”

Oh Tuhan, aku terjebak di sore yang seharusnya indah, bersama perempuan gila kerja. Seharusnya dia tidak usah sengoyo itu mengerjakan laporan perjalanan kami. Seharusnya aku dan dia duduk berhadapan menghirup aroma kopi sambil saling bertatapan mesra. Tidak bisakah dia santai sejenak saja, menikmati hidup tanpa menghiraukan urusan kantor. Reina dan Zul saja sedang asik berburu oleh-oleh ditemani teman-teman dari cabang. Mereka juga pasti akan menyempatkan diri untuk mencicipi ikan bakar paling lezat di Surabaya ini. Membayangkannya saja sudah meleleh air liur ini. Sementara aku, entah mengapa malah memilih menunggui perempuan ini, tidak digubris pula.

“Dulu astronomer kuno pernah terkecoh, menyangka venus itu adalah dua planet yang berbeda. Mereka menamakan Phosphorus untuk venus yang terlihat saat pagi, dan Hesperus untuk venus yang terlihat saat sore. Aha, ternyata planet yang disangkanya berbeda itu adalah venus yang sama. Pandai bukan, dia mengecoh orang. Kau juga sering begitu.”

Semakin ingin aku meracau, tak peduli dipedulikan atau tidak. Toh, aku sudah terlanjur diabaikan dari tadi. Meskipun diabaikan begini, aku tak menyesali keputusanku untuk tidak ikut bersama Reina dan Zul. Setidaknya, aku masih berkesempatan merangkum segala yang ada padanya dalam satu kata; indah. Indah yang membuatku berpaling dari segala hal selain dia.

“Kau tahu, kenapa venus seolah misterius ? Astronomer kesulitan melihat permukaannya dengan teleskop optik paling canggih sekalipun. Ada awan tebal yang tersusun dari asam sulfur. Awan yang tak bisa ditembus oleh cahaya tampak. Sama sepertimu bukan ? Ada sesuatu, entah apalah namanya itu. Awan. Kabut. Entahlah, kau sama misteriusnya dengan venus kan.”

Kataku lagi. Dia berhenti sekarang. Merapikan kertas-kertas yang berantakan, memasukkannya ke dalam map yang satu, lalu mengeluarkan kertas-kertas dari map lainnya. Notebooknya masih menyala. Lirih kudengar Only If milik Enya dari sana.

“Do, aku lapar. Sebaiknya kauhentikan dongeng venusmu itu, lalu pergilah mencari seseorang yang bisa memberi kita makan. Apapun itu. Kau yang memilih.”

Hei, kau dengar sendiri, kan. Itu salah satu bentuk keangkuhannya. Tidak ada kata, please Do, atau tolong Do, atau maukah kamu, ah. Selalu kalimat perintah. Dia memerintahku ? Hei, jangan kau kira aku sakit hati atau tersinggung. Dia sudah biasa begitu. Lagipula jika dilihat dari hierarkis jabatan, levelnya memang di atasku. Well, tapi dia begitu bukan karena hierarkis jabatan kok, aku tegaskan sekali lagi, dia memang begitu. Tidak memiliki gaya berkomunikasi yang bagus. Tidak pandai berbasa-basi.

“Apa yang kukatakan tentang venus tadi bukan dongeng, itu ilmiah. Fakta. Jangan kausepelekan pengetahuan astronomiku, dong.”

Protesku, sambil beranjak dari duduk. Dia tersenyum miring. Matanya masih tak beralih dari kertas-kertas itu.

“Aku tahu, NASA kan yang menceritakan itu padamu. Well, okelah. Analogimu tentang venus dan aku itu, yang kusebut dongeng. Kau terlalu mengada-ada. Kau bilang aku misterius lah, indah jika jauh lah, apa bukan dongeng itu namanya. “

Ternyata dia tadi menyimak racauanku. Kupikir dia lebih memilih tenggelam dalam Microsoft Word-nya itu. Ada kegembiraan tersendiri menyusupiku. Ada senyum yang merekah di wajahku, aku yakin itu. Tak bisa kusembunyikan.

“Baguslah, setidaknya kau mendengarku tadi. Kupikir aku tadi bicara sama patung Roro Jonggrang.”

Aku mengatakan itu sebelum pergi mencari sesuatu untuk dimakan. Dia tertinggal di sana sendiri. Aku mendengar Enya lagi. Kali ini Ebudae yang sedang terdengar. Aku sempat berhenti sepersekian detik. Perempuan itu, dan Ebudae dalam sore yang lengang, sungguh menciptakan sensasi yang menggetarkan.

Senin, 09 November 2009

Ketika Itu,

June 30th, 2005

Ketika itu, matanya menetap di wajahmu
Begitu lama hingga kau tersipu. Melayu seperti dedaun turi disapa senja
Lantas dia bersuara sungguh

; engkau cantik. tidak seperti siapa-siapa. seuntuh kamu. tanpa lipstick. tanpa maskara. tanpa perona. seindah bunga dalam warna aslinya.

dia bersungguh. mungkin bersungguh. semoga bersungguh. agar kau tak lagi blingsatan memilih seperangkat alat bersolek. agar kau tak lagi tertipu berbagai merek.
 

Followers

Ads Banner

Mengenai Saya

Foto saya
female. environmentalist wannabe. happy as always. open minded. casual ways. simple. impulsive buyer. dreamer. movie freak. book addicted. sometime talk active, sometime being a silent one. always try to pursue life goals and being thankful for every ordinary miracle in life.
Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template Vector by DaPino