Tapi siapa aku yang bisa memohon waktu menahan lajunya. Meski cuma satu jam saja. Maka, tak kusiakan waktu yang kupunya, untuk menggambar wajahmu pada lembaran ingatan yang kuharap bisa bertahan lama. Tanpa krayon, tentunya. Kau pun bertanya, mengapa kau memandangku seperti itu. Aku hanya menggeleng, alasan apa yang bisa kuungkapkan meskipun sebenarnya aku punya alasan bagus untuk memandangimu terus.
Lalu kau bergerak, mulai berkemas. Ah, ritual ini yang paling kubenci. Ketika kau pergi tanpa aku. Menyaksikanmu memasukkan satu-satu pakaian ke dalam ranselmu yang mulai menggembung, membuatku merasa semakin menyusut. Betapa aku ingin menyusup diantara lembaran pakaian itu. Mengikuti kepergianmu dan mengejek rasa rindu yang bahkan saat ini pun telah mengawasiku dari jauh. Rindu itu, yang tertawa di kejauhan. Sebentar lagi pasti akan menghinggapiku, saat kau keluar dari gerbang.
Rasanya aku semakin menyusut, saat kau mengecek tiket. Itu tandanya kau akan segera berangkat. Untuk beberapa saat aku ingin mengabaikan waktu, menikmati saat kau mengecupku seperti biasanya. Aih, tapi waktu memang selalu berisik, mengingatkan kita ini itu, mengingatkanmu untuk segera berangkat. Setelah mengucap salam perpisahan kau pun melambaikan tangan lalu melangkah menjauh. Aku masih menatap sosokmu sampai lenyap di kelokan. Pada saat itulah rindu segera menyergapku sambil tertawa riang.







0 komentar:
Poskan Komentar